Unknown On Selasa, 01 April 2014



A.     Latar Belakang

Sebagai insan yang normal, setiap manusia ingin berkomunikasi dengan manusia yang lainnya. Dengan demikian tidak terlepas dalam aktifitas menyimak dan berbicara. Terutama dalam pemanfaatan bahasa lisan. Namun dalam kenyataannya pembelajaran bahasa pada kurikulum yang telah lalu berbicara belum mendapat perhatian yang memadai karena masih dipadukan atau diselipkan diantara pokok-pokok bahasan yang lain, seperti pragmatik, kosakata, struktur, apresiasi sartra.

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa saja jenis-jenis berbicara?
2.      Apa saja tingkatan berbicara?
3.      Apa saja strategi berbicara?

C.      Tujuan Masalah

1.       Mengidentifikasi jenis-jenis berbicara
2.       Mengidentifikasi tingkatan berbicara
3.       Mengidentifikasi strategi berbicara

D.      Manfaat Makalah

         Adapun manfaat penyusunan makalah ini bagi penulis ialah sebagai media untuk menambah pengetahuan tentang keterampilan berbicara. Dan penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa untuk menunjang materi perkuliahan Bahasa Indonesia.



BAB II
PEMBAHASAN

A.     Jenis Berbicara


Berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan atau menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Sebagai perluasan dari batasan ini dapat kita katakan bahwa berbicara merupakan suatu sistem tanda-tanda yang dapat didengar (audible) dan yang kelihatan (visible) yang memanfaatkan sejumlah otot dan jaringan otot tubuh manusia demi maksud dan tujuan gagasan-gagasan atau ide-ide yang dikombinasikan. Berbicara merupakan suatu bentuk prilaku manusia yang memanfaatkan faktor-faktor fisik, psikologis, neurologis, semantik, dan linguistik sedemikian ekstensif, secara luas sehingga dapat dianggap sebagai alat manusia yang paling penting bagi kontrol sosial.
Tujuan utama dari berbicara adalah untuk berkomunikasi. Agar dapat menyampaikan pikiran secara efektif, sang pembicara memahami makna segala sesuatu yang ingin dikomunikasikan. Dia harus mampu mengefaluasi efek komunikas terhadap (para) pendengarnya dan harus mengetahui prinsip-prinsip yang mendasai segala situasi pembicaraan, baik secara umum maupun perorangan
1.      Berbicara berdasarkan situasi
Pembicaraan-pembicaraan yang bersifar informatif menyandarkan diri pula pada lima sumber utama, yaitu:
1.      Pengalaman-pengalaman yang harus dihubung-hubungkan seperti perjalanan, petualang, dan cerita roman/novel.
2.      Proses-proses yang harus dijelaskan, seperti pembuatan sebuah buku, mencampur pigmen-pigmen untuk membuat warna-warna, merekam serta memotret bunyi.
3.      Tulisan-tulisan yang harus dijelaskan/dipahami, seperti arti/makna konstitusi, dan falsafah plato.
4.      Ide-ide atau gagasan-gagasan yang harus disingkapkan, seperti makna estetika.
5.      Instruksi-instruksi atau pengajaran-pengajaran yang harus digambarkan dan diragakan, seperti: bagaimana bermain catur, dan bgaimana cara membuat kapal.
               Perlu disadari bahwa tuntunan serta pertimbangan dalam situasi-situasi informatif lebih bersifat intelektual daripada emosional. Kita harus berusaha menempatkan segala sesuatu dalam posisi dan urutan yang mudah terlihat. Untuk dapat melakukan hal ini, kita perlu mempergunakan komparasi, kontras, jenis, spesis, dan definisi. Demikianlah, masalah atau pertanyaan mengenai apakah “sesuatu” itu dapat dijawab dengan jalan menempatkannya dalam hubungan hal-hal yang telah diketahui, menunjukkan kesamaannya (komparasi) atau perbedaan (kontras); dengan cara menempatkannya dalam suatu kelas yang telah lebihmdiketahui (jenis); atau dengan jalan menyebutkan bagian-bagiannya (definisi). Pendekatan yang kita buat dapat bersifat deduktif atau pun induktif.

Dilihat berdasarkan situasi, berbicara dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
Secara formal, meliputi :
a.    Ceramah
b.   Perencanaan dan penilaian
c.    Interview
d.   Prosedur parlementer
e.    Bercerita
f.    Diskusi
Secara informal, meliputi :
a.     Tukar pengalaman
b.    Percakapan
c.     Menyampaikan berita
d.    Menyampaikan pengumuman

e.     Bertelepon
f.     Member petunjuk.


2.      Berbicara berdasarkan tujuan
1)      Berbicara di muka umum pada masyarakat atau public speaking  yang mencakup empat jenis, yaitu :
a)    Berbicara dalam situasi-situasi yang bersifat memberitahukan atau melaporkan, yang bersifat informative (invormative speaking),
b)      Berbicara dalam situasi-situasi yang bersifat membujuk, mengajak, mendesak, meyakinkan (persuasive speaking),
c)      Berbicara dalam situasi-situasi yang bersifat merundingkan dengan tenang dan hati-hati (deliberative speaking).
2)    Berbicara pada konferensi (conference speaking)
a)      Diskusi kelompok (group discussion), yang dibedakan atas :
Ø Tidak resmi (informal), dan masih diperinci lagi atas :
a.       Kelompok studi (study groups)
b.      Kelompok pembuat kebijaksanaan (policy making groups)
c.       Komik

Ø  Resmi (formal) yamg mencakup pula:
a.       Konferensi
b.      Diskusi panel
c.       Simposium
b)       Prosedur parlementer (parliamentary prosedure)
c)         Debat
3.      Berbicara Berdasarkan Penyampaian
Sang pembicara sendiri dapat menentukan yang terbaik dari empat metode yang mungkin dipilih, yaitu:
1)      Penyampaian secara mendadak (impromptu delivery);
2)      Penyampaian tanpa persiapan (extemporaneous delivery);
3)      Penyampaian dari naskah (delivery from manuscript);
4)      Penyampaian dari ingatan (delivery from memory).
(Mulgrave, 1954: 25)
                 Penyampaian mendadak. Seseorang yang tidak terdaftar untuk berbicara mungkin saja dipersilakan berbicara dengan sedikit atau atau tanpa peringatan. Oleh karena itu, sedikit mungkin dia hanya mempunyai waktu untuk memilih ide pokok sebelum harus mulai berbicara/berpidato secara mendadak. Dia harus mempergunakan pengalamannya bagi perkembangan dan penyesuaian yang perlu sebaik dia mulai melangkah maju. Semakin sederhan dibuat, organisasinya akan baik. Lelucon-lelucon atau insiden-insiden dari pengalamannya biasanya akan merupakan bahan penunjang yang terbaik.
                 Penyampaian tanpa persiapan. Sang pembicara yang ingin memanfaatkan keuntungan-keuntungan penyesuaian maksimum pada kesempatan dan penyimak secara langsung, dapat mempersiapkan diri sepenuhnya sejauh waktu dan bahan mengizinkan. Akan tetapi, hendaknya dia tidaklah bergantung pada penyampaian khusus ide-idenya. Dia haruslah mengetahui ide utamanya dan urutan yang mantap dari ide-idenya, tetapi hendaknya dia memilih bahasa yang tepat sebaik dia berbicara. Pengulangan-pengulangan akan turut mempermudah pilihan tersebut. Pada umumnya, kian sedikit catatan yang dibuatkan kian baik, sebab catatan-catatan itu turut menghambat penyajian yang lancar dan bersemangat seta diselingi oleh transisi-transisi yang terjadi. Kalaupun catatan harus dipergunakan, haruslah dibatasi pada hal-hal yang amat penting dan singkat-singkat, yang ditulis pada kartu kecil.
                 Penyampaian dari naskah. Penyampaian dari naskah biasanya dilaksanakan pada saat-saat yag amat penting dan kerapkali digunakan buat siaran-siaran radio atau televisi. Sang pembicara haruslah mampu memehami makna yang dibacanya itu dan memelihara serta mempertahankan hubungan yang erat dengan para pendengar. Dia memandang pendengarnya sebanyak mungkin dan kepada naskahnya sesedikit mungkin. Dia harus mampu menciptakan pikiran itu setiap kali dia menyajikannya kepada pendengar, dengan penuh perhatian terhadap responsi para pendengar.
                 Penyampaian dari ingatan. Keberhasilan berbicara yang penyampaiannya dari ingatan menuntut sang pembicara menguasai bahan pembicaraannya selengkap mungkin sehingga, dia tidak menghadapi masalah dalam hal bahasa dan dapat mencurahkan seluruh perhatian pada komunikasi langsung dari pikiran dan perasaa. Akan tetapi, ingatannya pun harus juga mengizinkan spontanitas yang serupa pada penyajian tanpa persiapan, lebih-lebih pada hal-hal yang perlu di sisipkan atau diinterpolasi kalau memang keadaan menghendakinnya.
4. Berbicara Berdasarkan Peristiwa Khusus yang Melatarbelakangi
               Cara yang paling menjamin serta memadukan suatu perasaan persahabatan adalah melalui obrolan hiburan. Menghibur adalah membuat orang tertawa dengan hal-hal yang dapat menyenangkan hati. Menciptakan suatu membuat/menimbulkan kebanggaan menjadi anggota kelompok tersebut. Sasaran diarahkan kepada peristiwa-peristiwa kemanusiaan yang penuh kelucuandan kegelian yang sederhana. Kadang-kadang sasaran yang melebihi itupun mungkin juga terjadi, tetapi nada dari seluruh pembicaraan hendaknya menggembirakan hati dan menyenangkan. Media yang paling sering dipergunakan untuk maksud tersebut adalah senibercerita atau mendongeng (the art of story-telling) lebih-lebih cerita yang lucu, jenaka, menggelikan. Pada saat sang pembicara atau si tukang dongeng beraksi, pada parsitipan dapat tertawa bersama-sama dengan penuh kegembiraan dan kekeluargaan atau persahabatan.
              Kesempatan-kesempatan bagi pembicaraan yang bersifat kekeluargaan atau persahabatan, antara lain:
1.    Pidato sambutan selamat datang,
2.    Pidato perpisahan,
3.    Pidato penampilan, penyajian, dan perkenalan,
4.    Pidato jawaban atau balasan,
5.    Pidato atau sambutan dalam pembukaan suatu upacara, pemberian ijazah, dan lain-lain,
6.    Pembicaraan sesudah makan,
7.    Pidato atau sambutan pada saat-saat memperingati hari jadi, dan hari ulang tahun,
8.    Pidato atau sambutan penghiburan, pertunjukan, dan lain-lain, serta
9.    Pidato atau kata-kata pujian tentang seseorang yang telah meninggal dunia.
(Powers, 1951 : 208)
5.      Berbicara berdasarkan jumlah pendengar
Berdasarkan jumlah pendengar, berbicara dapat dibagi atas tiga jenis, yaitu :
a.    Berbicara antar pribadi atau empat mata
terjadi apabila dua pribadi membicarakan, mempercakapkan, merundingkan, atau mendiskusikan sesuatu.
b.   Berbicara dalam kelompok kecil
Terjadi apabila seorang pembicara menghadapi sekelompok kecil pendengar, misalkan tiga sampai lima orang.
c.    Berbicara dalam kelompok besar
Terjadi apabila seorang pembicara menghadapi pendengar berjumlah besar atau masa.

6.      Berbicara berdasarkan peristiwa khusus yang melatarbelakangi
Berdasarkan peristiwa khusus yang melatarbelakangi, bicara khusus pidato dapat digolongkan dalam enam jenis, yakni :
a.    Pidato presentasi
Pidato yang dilakukan dalam suasana pembagian hadiah.
b.   Pidato sambutan
     Yang berisi ucapan kepada tamu.
c.    Pidato jamuan
     Berupa ucapan selamat, mendoakan kesehatan buat tamu dan sebagainya.
d.   Pidato perkenalan
   berisi pihak yang memperkenalkan tentang nama, jabatan, pendidikan, pengalaman kerja, keahlian yang diperkenalkan kepada tuan rumah.
e.    Pidato nominasi
   berisi pujian atau alasan, mengapa sesuatu itu diunggulkan public speaking.

B.     Tingkatan Berbicara

Berbicara merupakan bagian dari komunikasi. Jika umpan balik dalam komunikasi itu lebih bersifat positif, berarti penyampaian pesan komunikator telah efektif. Dalam melakukan bicara di depan umum (public speaking) tidak selalu ada kata sepakat, namun selalu tercapai pengertian yang sama (komunikan mengerti maksud komunikator dan sebaliknya, walau tidak setuju).
            Berdasarkan  tingkat  kesulitannya, bentuk berbicara bermacam-macam antara lain sebagai berikut.
a.      Merespon gambar
Bentuk berbicara ini dapat dilakukan dengan cara guru memperlihatkan sebuah gambar, kemudian memberikan pertanyaan atau bercerita langsung tanpa bantuan pertanyaan.
b.  Mendeskripsikan benda
Bentuk berbicara ini dapat dilakukan dengan cara siswa mendeskripsikan benda yang ditunjukkkan guru atau yang dibawa oleh siswa sendiri, misalnya mendeskripsikan tentang bentuk, warna, tempat membeli, fungsi, dan sebagainya.
c.   Memperkenalkan diri
Bentuk berbicara ini dilakukan dengan cara siswa untuk memperkenalkan diri secara bergantian di depan kelas.
d.  Tanya jawab
Bentuk berbicara ini dilakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan secara lisan pada siswa, dan siswa menjawabnya dengan lisan pula.
e.   Menceritakan kembali
Bentuk kegiatan ini dilakukan dengan cara, siswa dibacakan atau diperdengarkan sebuah teks, kemudian ia menceritakan kembali isinya dengan bahasanya sendiri.
f.   Percakapan terpimpin
Bentuk kegiatan ini dilakukan dengan cara, guru menceritakan sesuatu situasi percakapan dengan topic tertentu; selanjutnya, dua orang siswa diminta melakukan percakapan itu.
g.  Diskusi
Bentuk berbicara ini dilakukan siswa dalam beberapa kelompok; selanjutnya masing-masing kelompok diberi topik diskusi yang berbeda-beda; kemudian guru mengadakan evaluasi pada masing-masing kelompok untuk mengukur kemampuan berbicara siswa.
h.   Pidato atau bebas berbicara
Bentuk ini dilakukan dengan cara: guru untuk mempersilahkan siswa untuk memilih salah satu topik yang ditawarkan kemudian menyusun menjadi pokok-pokok pikiran.
C.     Strategi Berbicara
Ada enam hal dalam berbicara, efektif :
1.      Mengapa: menetapkan sasaran.Hal pertama yang harus dalam pikiran pembicara adalah menetapkan sasaran pembicara. Hal ini bermanfaat untuk memilih bahan yang sesuai sasaran.
2.      Siapa: pendengar. Dapat membantu dalam menetapkan bahan pembicaraan kepada pendengar yang tepat.
3.      Dimana: tempat dan sarana. Penting bagi anda untuk mengetahui dan memperhatikan kondisi sosial masyarakat yang akan mendengarkan pembicaraan kita.
4.      Kapan: waktu. Beberapa lama waktu yang diperlukan dalam berbicara? Anda perlu memperhatikan manajemen waktu.
5.   Apa: bahan yang akan digunakan, agar bahan sesuai dengan sasaran pembicaraan, maka persiapan bahan perlu dilakukan.
6.   Bagaimana: teknik penyampaian menyangkut penggunaan kata, ekspresi, dan intonasi.

Dalam merencanakan suatu pembicaraan, kita harus mengikuti langkah-langkah berikut :
1)      Memilih pokok pembicaraan yang menarik hati kita.
Kalau pokok pembicaraan yang hendak disampaikan memang menarik hati kita sebagai pembicara, hampir-hampir dapat dipastikan akan menarik perhatian para pendengar juga. Kebanyakan orang akan lebih cenderung, mendengarkan suatu pembicaraan yang baik mengenai suatu pokok atau judul yang disenangi oleh sang pembicara daripada suatu pembicara yang membosankan mengenai suatu hal yang sedikit diketahui oleh sang pembicara.
2)      Membatasi pokok pembicaraan.
Tidaklah mungkin menceritakan segala sesuatu secara terperinci dari setiap pokok pembicaraan dalam waktu singkat. Dengan jalan membatasi pokok pembicaraan maka mungkinlah kita mencakup suatu bidang tertentu secara baik dan menarik. Kalau kita coba mempelajari terlalu banyak hal, mau tidak mau pembicaraan kita menjadi terlalu umum dan akan meninggalkan kesan yang samar-samar pada para pendengar.
3)      Mengumpulkan bahan-bahan.
Andai kata kita telah biasa dengan pokok masalah yang hendak disampaikan maka yang menjadi masalah adalah mencari bahan yang lebih banyak yang diperlukan. Akan tetapi, bila kita membutuhkan bahan tambahan, kita dapat mengkumpulkannya dari berbagai sumber, misalnya dari buku-buku, eksiklopedia, majalah, makalah, dan lain-lain. Kalau kebetulan ada orang-orang ahli dalam bidang itu yang dapat kita hubungi, kita dapat mengadakan wawancara dengan mereka.
4)      Menyusun bahan.
Pembicaraan yang hendak disampaikan hendaknya (dan biasanya) terdiri atas tiga bagian, yaitu:
a.       Pendahuluan
b.      Isi
c.       Simpulan
a)      Pendahuluan
Rencanakanlah menarik perhatian para pendengar dalam kalimat pembuka. Kita dapat memulai dengan suatu pertanyaan yang merangsang atau suatu pernyataan yang menimbulkan rasa ingin tahu dari para pendengar.
b)      Isi
Dalam merencanakan isi pembicaraan, kita harus membuat suatu bagan butir-butir penting yang akan ditelusuri. Rencanakanlah mempergunakan kata-kata peralihan yang akan memudahkan para pendengar mengikuti gagasan-gagasan kita. Misalnya:
Pertama-tama…. Kedua … ketiga … akhirnya …
Langkah pertama … langkah kedua …
Kalimat-kalimat dalam isi pembicaraan kita hendaklah bersemangat, bergairah, antusias, logis, dan spesifik.
c)      Simpulan
Simpulan sebaiknya tidak lebih dari satu atau dua kalimat. Simpulan hendaknya merangkumkan butir-butir penting dari pembicaraan kita. Beberapa kata terakhir hendaklah dipilih yang tepat dan baik yang diucapkan dengan penuh semangat dan penekanan.

Menurut Yuni Hartanta, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan public speaking, yakni:
1.   Perhatikan penampilan
2.   Perhatikan volume suara dan intonasi
3.   Luasnya wawasan
4.   Mengontrol waktu
5.   Pola berpikir yang sistematis
6.   Pembicaraan yang konkret dan membumi
7.   Sikap mental

Menguasai Teknik-Teknik Berbicara Kelas Dunia
Cara lainnya untuk berbicara cerdas di depan public adalah dengan menguasai teknik berbicara kelas dunia. Teknik berbicara kelas dunia? Apa itu? Mungkin, sebagian orang masih asing dengan teknik ini telah kita pelajari sejak SD.
Fakta menunjukkan bahwa banyak orang mengalami kecemasan berbicara di depan umum. Apalagi, jika orang tersebut harus berbicara dan menguraikan suatu masalah, dan orang lain terfokus kepada apa yang disampaikannya. Bahkan, kecemasan berbicara di depan umum bisa dialami oleh orang dewasa, walaupun yang akan menyimak dari pembicaraannya audiens anak-anak.
1.      Penyebab Munculnya Rasa Cemas
Kecemasan berbicara di depan umum adalah suatu perasaan tidak nyaman yang bersifat tidak menetap pada diri individu,baik ketika membayangkan maupun saat berbicara di depan orang banyak. Hal ini ditandai dengan adanya reaksi fisik dan psikologis. Kecemasan berbicara tidak mengenal usia,bahkan seorang yang sudah terlatih sekalipun. Hal ini disebabkan oleh banyak fakyor. Berikut ini faktor-faktor yang menyebabkan kecemasan berbicara di depan umum.
a.       Belum terbiasa berbicara dengan audiens yang banyak.
b.      Tuntutan yang berlebih dari dalam diri untuk berbuat yang terbaik.
c.       Ketakutan akan mengalami gugup jika sedang berbicara, apalagi dengan audiens yang memiliki otoritas (atasan, guru, orang lebih tua, pakar yang lebih ahli, dan lain-lain).
d.      Belum menguasai materi yang disampaikan, sehingga tidak percaya diri.

2.      Cara Mengatasi Rasa Cemas
Untuk mengatasi kecemasan berbicara di depan umum, perlu diketahui faktor-faktor penyebab kemunculannya. Seseorang yang sudah mengetahui faktor-faktor penyebab kecemasan berbicara di depan umum, tidak hanya terbebas dari perasaan cemas dan takut, namun juga akan menikmati posisinya sebagai seorang pembicara yang diperhatikan banyak pendengar. Berikut ini beberapa prinsip yang dapat kita pegang untuk mengatasi kecemasan berbicara di depan umum.
a.      Kecemasan Berbicara di Muka Umum Bukan Berasal dari Dalam
Kebanyakan orang, percaya bahwa seluruh hidup ini patut dicemaskan. Untuk mengatasi kecemasan ini secara efektif, perlu disadari bahwa kita tidak perlu mencemaskan hidup, termasuk dalam berbicara di depan umum. Ribuan orang telah belajar untuk bericara di depan umum tanpa rasa cemas (kalaupun ada hanya sedikit sekali). Pada mulanya, mereka sangat cemas. Lutut mereka gemetar, suara bergetar, dan pikiran menjadi kacau. Namun, mereka berhasil menghapus kecemasan itu. Sebagai manusia biasa, kita oun juga tidak berbeda dengan mereka. Jika mereka mamu mengatasi kecemasan itu, berarti kita pun bisa!. Kita hanya perlu mendapat pedoman, pengertian, dan rencana aksi yang tepat untuk mewujudkan hal itu. Percayalah, sudah banyak berhasil. Tetapi ingat juga, keberhasilan tidak bisa diraih dalam semalam. Ada proses yang harus dilalui.
b.      Tidak Harus Cerdas dan Sempurna
Ketika melihat seorang sedang berpidato, kita lalu bergumam, “Wow, saya tidak mungkin bisa secerdas, setenang, selucu, dan semenarik dia.” Sesungguhnya, anda tidak harus cerdas, lucu, atau menarik. Walaupun hanya memiliki kemampuan rata-rata, bahkan di bawah rata-rata, Anda masih bisa menjadi pembicara sukses. Itu tergantung bagaimana Anda mendefinisikan kata “sukses” itu sendiri. Percayalah, audiens itu tidak mengharapkan Anda tampil sempurna. Inti dari berbicara di depan umum adalah memberikan sesuatu yang bernilai dan bermakna bagi audiens. Jika audiens pulang sambil membawa sesuatu yang bermanfaat, maka mereka akan menilai anda telah sukses. Jika mereka pulang dengan perasaan yang lega atau merasa mendapat manfaat untuk pekerjaannya, maka mereka akan menganggap bahwa tidak sia-sia meluangkan waktu untuk mendengarkan paparan anda. Bahkan, sekalipun lidah Anda terpeleset karena mengucapkan kata-kata yang tolol, mereka tidak peduli, yang penting, mereka mendapat manfaat lain.
c.       Hanya Membutuhkan Dua atau Tiga Pokok Utama
Pembicara tidak perlu menyuguhkan segunung fakta pada audiens. Banyak penelitian menunjukkan bahwa hanya sedikit sekali yang mampu diingat audiens (kecuali jika mereka mencatat). Pilihlah dua atau tiga point saja. Bagi audiens, mereka bisa membawa pulang dua atau tiga hal yang bermanfaat. Jika pembicara bisa menghindari kompleksitas yang tidak perlu. Ini berarti, tugas sebagai pembicara menjadi lebih ringan dan menyenangkan.
d.      Mempunyai Tujuan yang Tepat
Kesalahan besar yang sering dilakukan oleh orang yang berbicara di depan umum adalah mereka tidak mempunyai tujuan yang tepat. Inilah yang sering menyebabkan kecemasan dan stress, tanpa mereka sendiri. Ada seorang pembicara pernah berpikir bahwa tujuan utama berpidato adalah membuat semua orang yang hadir setuju dengan pendapatnya. Oleh karena itu, ia berusaha keras untuk meyakinkan semua audiens. Jika ada satu orang yang tidak setuju, ia langsung meradang. Jika ada orang yang pulang terlebih dulu, tertidur, atau tampak tidak tertarik, ia merasa telah gagal. Namun, kemudian ia menyadari ambisi seperti ini tidak ada gunanya. Apakah ada pembicara yang meyakinkan 100% orang yang mendengarnya? Jawabannya: tidak ada. Sesungguhnya, sekeras apapun upaya anda, selalu saja ada orang yang tidak sepakat dengan anda. Ini hal yang biasa. Di dalam kumpulan orang, selalu ada perbedaan pendapat, penilaian dan tanggapan. Ada yang positif, ada pula yang negative. Sebagai contoh, jika ada yang lamban dalam menyelesaikan pekerjaan, tentu ada yang bersimpati, ada pula yang mengkritik tajam. Jika ada orang yang berhasil menuntaskan pekerjaan dengan baik, ada yang memuji, ada pula yang sangsi dengan kualitasnya. Orang yang pulang lebih dulu, mungkin bukannya tidak tertarik pada uraian Anda, melainkan ada keperluan mendesak.
e.       Kunci Sukses Adalah tidak Menganggap Diri Anda Seorang Pembicara
Prinsip ini tampak paradoks. Kebanyakan orang telah terpengaruh oleh pembicara yang sukses. Kemudian, agar sukses, Anda berusaha sekuat tenaga memperlihatkan kualitas tertentu yang sebenarnya tidak Anda miliki. Akibatnya, Anda menjadi putus asa ketika gagal meniru karakteristik dari orang terkenal yang dianggap sebagai kunci sukses tersebut.
f.       Kerendahan Hati dan Humor Sangat Menarik Perhatian
Ada dua hal yang dapat digunakan seseorang untuk menarik perhatian orang lain ketika berbicara di muka umum, yaitu kerendahan hati dan humor. Semua orang mengenal humor. Jika humor itu tidak menyakiti siapa pun, cukup lucu, dan sesuai dengan tema pembicaraan, silahkan Anda lakukan. Humor selalu menarik, meskipun Anda tidak cakap menyampaikannya. Sedangkan, yang dimaksud kerendahan hati adalah mengemukakan kelemahan dan kegagalan Anda.
g.      Apa yang Terjadi Selama Berbicara, Manfaatkan untuk Keuntungan Anda
Salah satu alasan orang takut berbicara di depan umum adalah tidak mau dipermalukan di hadapan orang banyak. Bagaimana nanti jika aku gemetaran dan suaraku tercekat? Bagaimana jika aku lupa sama sekali dengan apa yang harus kusampaikan? Bagaimana nanti jika mereka keluar ruangan semua?
Jika semua kegelisahan itu terjadi, memang akan membuat pembicara mendapat malu. Untungnya, hal ini tidak sering terjadi.
h.      Anda Tidak Bisa Mengatur Perilaku Khalayak (Audiens)
Ada beberapa hal yang bisa Anda atur, yaitu pikiran, persiapan, pengaturan alat peraga, dan penataan ruang pertemuan. Tetapi, satu hal yang tisak bisa diatur, yaitu audiens. Mereka akan bertindak sesuai kehendak mereka. Jika mereka terlihat lelah atau gelisah, jangan coba-coba untuk mengaturnya. Jika m
Ereka membaca Koran atau tertidur, biarlah itu sepanjang tidak menganggu yang lain. Jika mereka tidak menyimak, jangan menghukum mereka. Jika Anda menganggap bahwa Anda harus mengatur perilaku orang lain, maka Anda akan stress sendiri. Anda hanya bisa mengatur diri sendiri dan sarana pendukung.
i.        Audiens Sesungguhnya Menginginkan Anda Berhasil
Para audiens menghendaki Anda sukses saat menyampaikan materi. Sesungguhnya, sebagian besar dari mereka sangat takut berbicara di depan orang banyak.
BAB III
PENUTUP

A.    Simpulan
·      Seseorang yang pandai berbicara adalah seseorang dapat menyampaikan topik secara jelas. Pembicara mengetahui siapa yang diajak berbicara agar dapat berbicara dengan baik dan benar serta berbicara harus urut dari urutan awal, tengah dan akhir. Pembicara harus menggunakan faktor psikis, psikologis dan neurologis dan linguistik dalam menyampaikan gagasannya.
·      Setiap Pembicaraan yang  kita sampaikan harus menggunakan  konsep yang baik dari awal acara sampai akhir pembicaraan kita supaya orang lebih memahami apa yang kita sampaikan.
·      Buat orang lain tertarik kepada topik pembicaraan kita, sampaikan pembicaraan dengan menggunakan bahasadan  cara yang tepat dalam setiap acara dengan menyesuaikan  situasi  di mana kita berbicara.

B.    Saran

            Dalam makalah ini kami berharap agar para pembaca lebih khususnya kami sendiri selaku pembuat makalah bisa mengenal, mengetahui dan bisa mempraktekan keterampilan berbicara dalam teknik berdiskusi, supaya nantinya dalam berbicara ataupun melakukan diskusi para audiens bisa tertarik atau menerima dan paham dengan apa yang kita sampaikan.
             

DAFTAR PUSTAKA


Tarigan, Hendry Guntur. 1979.  Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Khayyirah, Balqis. 2013. Cara Pintar Berbicara Cerdas di Depan Publik. Yogyakarta: DIVA Press.
Rakhmat, Jalaluddin. 2011. Retorika Pendekatan Praktis. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Diberdayakan oleh Blogger.